[FF] Ada Apa Dengan Cinta …. After Seven Years … (bag.1)

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja
Aku menutup halaman terakhir dari buku bersampul hitam yang dua tahun belakangan ini tidak lagi menjadi teman tidurku. Aku sudah memindahkan tempatnya ke dalam lemari. Tepatnya di dalam sebuah kotak dengan kunci berkombinasi angka di penutupnya. Aku sengaja melupakan pinnya. Seperti aku mencoba untuk melupakan isi kotak itu. Tapi, ingatanku yang kuat tentangnya, tidak pernah bisa benar-benar menghapusnya sebersih yang kuinginkan.
Hanya sesekali aku mengambilnya dari tempat pengasingan.
Ketika aku benar-benar tidak bisa lagi mengalihkan perasaan ini.
Rindu yang tak pernah mau padam.
***
Tujuh tahun setelah puisi itu diterima…
“Buku baru loe keren, Ta. Gue yakin, pasti bakalan laris,” kata Carmen sambil membolak balik halaman sebuah novel yang baunya masih terasa segar di penciuman.
“Tapi, sepertinya cerita di novel ini beda dari biasanya. Iya kan, Ta?” timpal Alya usai membaca prolog. “Tumben tentang cinta.”
“Sekali-kali berubah ga apa kan, Al. Cinta enggak harus selalu nulis tentang perempuan dan segala persoalannya. Siapa tahu, sesuatu yang romantis bisa bikin Cinta mulai berpikir untuk…” Omongan Maura berhenti mendadak ketika kakinya disenggol Alya. Perubahan sekilas di wajah Cinta membuatnya mengerti bahwa topik ini cukup sensitif.
“Ta, ini apa sih maksudnya… aku ingin menjual kenangan tapi mungkin seorang pun mau membelinya. Barang usang lebih berharga dari kenangan yang membusuk dan terlupakan. Ah… selamanya gue ga bakalan pernah ngerti maksud kata-kata loe,” seloroh Mili sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal. “Memangnya kenangan yang mana yang mau loe jual, Ta?” tanya Mili dengan mata polosnya memandang Cinta penuh rasa ingin tahu. “Kenangan tentang kita atau….”
“Hanya fiksi, Mil. Ceritanya enggak ada sangkut pautnya sama… gue,” potong Cinta sebelum kalimat Mili sempat selesai.
Mata Mili menyipit.
“Tapi kenapa di sini ada kata-kata yang gue kenal banget…”
“Kata-kata apa, Mil?” Carmen dan Maura berdiri dari duduknya lalu duduk di samping Mili. Berebutan ingin melihat halaman yang menarik perhatian Mili.
“Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat. Itu kan…”
Suara ponsel Maura yang berisik membuat kalimat Mili terputus. Alya bisa melihat tarikan napas lega di wajah Cinta. Percakapan mereka terputus sejenak demi memberikan waktu buat Maura menjawab teleponnya.
“Aduh, darling… sorry ya. Gue harus cepat-cepat balik ke kantor nih. Ada bos besar yang pengen liat laporan persiapan pameran bulan depan. Telepon-telepon gue ya kalau ada rencana buat ketemuan lagi,” kata Maura sambil membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Sebelum beranjak dari kursinya, Maura menyempatkan diri melihat penampilannya di cermin kecil yang ada di dalam setiap tas yang dimilikinya. Sepertinya semboyan Maura –sedia cermin sebelum berpergian– tidak pernah berubah sejak jaman SMA dulu.
“Sepertinya gue juga harus pergi nih. Gue ada latihan sore ini,” pamit Carmen menyusul kemudian. “Loe enggak ikutan cabut, Mil?”
Mili mengangkat wajah dari novel yang sedang dibacanya dengan serius.
“Gue…” Mili melihat jam di pergelangan tangannya. “Oh My God, gue lupa harus jemput anak gue yang lagi les di Kumon. Thanks ya loe udah ngingatin gue, Men.”
Carmen menepuk jidat lalu menyelipkan helaian rambut ikalnya ke belakang telinga. “Maksud hati, gue pengen nebeng sama loe, Mil,” jawab Carmen. “Mobil gue lagi masuk bengkel.”
“Kalo gitu loe gue anterin deh. Mumpung belum jam macet ini.”
“Dasar tukang ngebut loe, Mil. Kirain setelah loe jadi emak-emak bakalan insyaf. Eh, malah makin menjadi,” seloroh Maura.
“Yee… keahlian gue itu bisa sangat berguna tahu. Anak-anak gue yang susah bangun pagi itu jadi enggak bakalan terlambat masuk sekolah.”
“Aduh, sudah deh… jangan dibahas lagi. Kapan perginya kalau gini terus?”
Maura dan Mili sama-sama menghela napas dan membenarkan protes Carmen. Ketiganya langsung bergiliran mencium pipi kiri kanan Cinta dan Alya yang sepertinya masih akan melanjutkan pertemuan mereka.
“Bagaimana persiapan pernikahan loe, Al?” tanya Cinta setelah hanya tinggal berdua dengan Alya.
“Bentar lagi rampung, Ta.”
“Masih deg-degan menunggu hari H?”
“Bukan deg-degan lagi, Ta. Sudah sampai tahap mulas-mulas. Bagaimana pun dalam hati gue masih ada terselip sedikit keraguan. Loe tahu, kan… sejarah keluarga gue.”
Cinta mengusap-usap punggung Alya.
“Tapi menurut gue mas Bayu adalah lelaki yang baik, Al. Semoga dengan berjalannya waktu, dia akan tetap seperti itu.”
“Amin,” sahut Alya. “Mudah-mudahan, Ta.”
Mereka saling menggenggam tangan. Menguatkan.
“Jadi… kapan loe mau memikirkan tentang masa depan loe, Ta?” tanya Alya hati-hati. “Maksud gue… apa loe beneran enggak bisa buka hati loe buat siapa-siapa lagi?”
“Al, kita sudah ngebahas ini berkali-kali.” Cinta berusaha menghindar.
“Dan gue enggak akan pernah bosan untuk membahasnya terus, Ta. Gue sedih liat loe kayak gini. Lupain Rangga, Ta.”
“I wish I could…”
Alya menguatkan genggaman tangannya. Ia tahu, sarannya untuk Cinta bukanlah hal mudah untuk dilakukan. Mengalihkan perhatian dari segala sesuatu tentang Rangga mungkin bisa, tapi untuk benar-benar melupakannya, mungkin sulit.
“Sudah tujuh tahun, Ta. Apa loe enggak pernah kepikiran kalau perasaan Rangga sama loe bisa aja sudah berubah.”
“Gue tahu, Al. Sangat tahu.”
“Ta, untuk jatuh cinta pada seseorang, kita hanya memerlukan waktu sedetik. Tapi untuk melupakannya… mungkin membutuhkan waktu seumur hidup. Tapi bukan berarti dalam proses melupakan loe enggak mengambil kesempatan yang lain. Bagaimana bisa loe ngelupain Rangga kalau loe enggak pernah ngasih kesempatan buat diri loe untuk mencintai orang lain.”
Cinta terdiam seribu kata di depan Alya. Dia yang biasanya punya banyak rangkaian kalimat di kepalanya mulai merasa gagu. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menunggu kelanjutan sebuah kisah. Tapi Cinta ingin menjalaninya. Ia sungguh penasaran, sampai di mana batasnya ia mampu menunggu.
#bersambung ke PART 2
PS: ceritanya abis nonton AADC gara-gara kepancing ama Hairi Yanti nih. eh, taunya kepengen nulis lanjutannya… hahaha… tapi klo ada yang nanya kenapa ampe 7 tahun pisahnya???? ya itu karena… angka tujuh bagus deh keknya… hehehhhe
happy reading… ^__^
saya kepengennya dua orang ini jadian di dunia nyata. tapi karena selalu jadian di film, jadi udah ga dijodohin lagi kali ya ama Tuhan. dian udah menemukan belahan jiwanya, sedangkan nicho,,, sepertinya dia belum menemukan saya… kwkwkkwkkwk …. *digeplak orang sekampung*

About fitrigitacinta

perempuan yang jatuh cinta pada hujan.
This entry was posted in fiksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s