[FF] Ada Apa Dengan Cinta …. After Seven Years …. (bag.3)

Rangga menyambar dasi berwarna abu-abu dari gantungan di lemari lalu memasangnya secepat kilat. Buru-buru menyisir rambut dan mengikatnya ke belakang. Ia memastikan penampilannya sebentar di cermin sebelum menyambar tas kerjanya yang terletak di atas meja. Tapi ia kembali masuk ke dalam kamar ketika ponselnya masih tertinggal di atas tempat tidur. Sekali lagi ia membuka tas kerjanya, memastikan tidak satupun berkas-berkas penting terlupakan. Ia tidak ingin menyebabkan Mr. Watkins naik darah dan membuatnya membenci hari Senin.
Pagi yang benar-benar sibuk.
Ini akibatnya jika begadang semalaman hingga ia bangun terlambat di hari pertama kembali bekerja. Tapi ia sama sekali tidak menyesal. Setidaknya ia bisa menuntaskan rasa rindu yang seminggu ini menggumpal di hatinya. Rasa rindu yang mengendap karena kesibukan yang menyita nyaris seluruh waktu dan hidupnya. Meskipun hanya dengan membaca sebaris status atau menelusuri setiap kalimat di notes yang diposting Cinta di Facebook-nya.
Ia harus berterima kasih banyak pada Mark Zuckerberg yang membuatnya mudah memantau hidup seseorang meskipun terpisahkan ribuan mil.
Mungkin ia memang jahat, meninggalkan Cinta begitu saja tanpa pesan. Kemudian secara diam-diam memasuki kehidupan gadis itu. Mengetahui banyak hal tentangnya. Bahagia bersamanya. Sedih bersamanya. Tapi ia tidak pernah punya keberanian untuk muncul di depan gadis itu meskipun melalui sebaris kalimat. Ia beranggapan Cinta lebih baik tidak tahu apa-apa tentangnya, sampai ia bisa kembali berdiri di depan gadis itu. Dengan membawa janji yang selama tujuh tahun belum bisa ia tepati.
Keluar dari pintu apartemen, Rangga mengangkat wajahnya sekilas. Menatap langit cerah musim semi yang baru saja tiba. Daun-daun maple yang berguguran mulai menghijau. Merimbun di dahan-dahan kokoh yang berbaris rapi di tepi jalan. Lalu dengan langkah tergesa menuruni tangga. Mobilnya terparkir lumayan jauh hingga ia harus bergegas agar bisa memburu waktu.
“Pagi-pagi sudah melamun.”
Rangga menghentikan langkahnya. Ia kembali mundur dan berdiri di depan gadis berkaca mata yang menyenderkan tubuhnya di tiang rambu lalu lintas.
“Coffee, Sir?”
Ia menyambut uluran tangan gadis itu. Karena terburu-buru, ia belum sempat minum seteguk air pun. Apalagi sarapan lengkap seperti biasanya.
“Thanks.” Ia membuka penutup gelas styrofoam dan pelan-pelan meneguk isinya yang masih mengepulkan asap. “Kau memang dewi penyelamatku.”
Gadis itu tersenyum, samar.
“Tampaknya kamu tidak senang,” katanya sambil menekan tombol remote untuk membuka kuncian mobilnya. Dengan gerakan cepat ia masuk ke dalam, meletakkan tas kerja di jok belakang. “Sorry, tapi aku harus pergi. Aku tidak bisa mengobrol lama pagi ini.”
“Pergilah.”
Ia melambaikan tangan. Menyisakan deru di hadapan gadis berkaca mata yang hanya bisa menatapnya nanar.
“Menyebalkan!” gerutunya kembali menggantungkan handuk di leher. Meneruskan lari paginya yang tertunda mungkin bisa sedikit memperbaiki perasaan hatinya yang kacau balau. “Dia memang tidak berwujud tapi selalu menjadi penghalang yang paling besar. Apa aku harus menyerah saja?” Gadis berkaca mata itu, Kirani, bertanya pada dirinya sendiri.
“Menyerah saja. Itu baik buat kesehatanmu, Ran. He is not the only one in this world. Lebih baik kamu terima saja lamaran George, dia lebih baik berlipat-lipat daripada si manusia esmu itu,” kata Nila, sahabatnya berulang kali. Bahkan tidak pernah bosan mengenalkan teman-teman cowoknya, baik orang-orang Indonesia maupun kenalannya yang asli Amerika.
“Tidak!” Kirani menegaskan pilihannya. “Aku sudah berusaha selama bertahun-tahun. Aku tidak mau menyerah sekarang. Setidaknya belum.”
***
Cinta sengaja datang ketika sekolah sudah kosong. “Tolong sampaikan pada Pak Wardiman, Cinta ingin bertemu,” katanya pada petugas keamanan yang menjaga di gerbang depan. Petugas itu sepertinya orang baru. Terakhir kali berkunjung, Cinta bertemu dengan petugas yang lain.
Selang sepuluh lima menit menunggu, akhirnya Cinta bisa bertemu dengan Pak Wardiman.
“Maaf menunggu lama, Neng Cinta. Saya baru kelar sholat.”
“Tidak apa, Pak. Bagaimana kabarnya, sehat?”
“Alhamdulillah.” Pak Wardiman menggangguk. “Neng Cinta pasti datang karena ada sesuatu toh?”
Cinta tampak tersipu.
“Kesannya saya datang kalau hanya ada perlu ya, Pak?”
Pak Wardiman terkekeh.
“Sebaiknya kita ngobrol di dalam. Orang tua seperti saya kalau berdiri lama-lama, mudah pegal.”
Cinta mengikuti langkah Pak Wardiman melewati gerbang. Menyusuri koridor sekolah yang biasanya ramai dengan canda dan tawa. Setiap kali Cinta kembali berkunjung ke sana, kenangan itu menyeruak hadir. Setiap jengkal bangunan sekolah itu memiliki arti untuknya.
Di ujung koridor ada ruangan yang menyimpan banyak cerita. Ruang Mading. Ruang tempatnya bersama Alya, Maura, Mili dan Carmen menyalurkan kegemaran mereka. Ruang yang menguatkan persahabatan mereka hingga bertahun-tahun sesudahnya. Ruang di mana ceritanya bersama Rangga berawal.
Pak Wardiman berhenti tidak jauh dari pintu masuk. Duduk di bangku yang tersedia di depan kelas.
“Neng Cinta masih kepengen tahu soal Rangga?”
Cinta menggeleng.
“Enggak, Pak. Saya juga tahu Bapak pasti tidak punya berita apa-apa untuk saya, kan?”
Terakhir yang Cinta ingat, Rangga hanya pernah mengirimkan sepucuk kartu pos yang bertuliskan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri. Tanpa alamat. Hanya stempel di perangkonya saja yang menandakan kartu pos itu dikirimkan dari New York.
“Jadi, Neng Cinta datang kemari…”
“Saya mau minta izin, Pak.”
“Minta Izin untuk apa?”
Kening tua Pak Wardiman tampak berkerut. Membuat peci hitamnya melorot turun.
“Saya bakalan sering-sering datang kemari, Pak. Ada cerita yang ingin saya tulis. Rasanya lebih mudah mengingatnya jika saya sering-sering kemari.”
“Oooo… kalau itu silahkan. Selama tidak untuk hal-hal yang membahayakan, saya pasti akan membantu.”
Cinta tertawa.
“Ini juga berbahaya kok, Pak.”
Bermain-main dengan masa lalu bukankah hal yang berbahaya? Kalau kau tidak mampu berdamai, mungkin hidup yang kau jalani sekarang malah jadi berantakan. Cinta berdialog sendiri di dalam hati.
Kerutan di kening Pak Wardiman makin bertambah.
“Becanda, Pak.”
“Kalau begitu, nanti saya kasih tahu si Marwan, satpam di depan. Biar dia membukakan pintu gerbang kalau Neng Cinta datang lagi.”
“Terima kasih ya, Pak.”
Lelaki tua berkulit legam itu mengangguk senang.
***
Malam belum cukup tua ketika Cinta mengetuk pintu rumah Alya. Tidak sampai ketukan ketiga, pintu rumah itu terbuka. Wajah tersenyum Alya menyambutnya. “Ayo, masuk, Ta,” ajak Alya sambil membenarkan ikatan rambutnya yang longgar.
“Lagi sibuk ya, Al?”
Cinta mengitari ruangan itu dengan matanya. Ruang tamu yang tidak seberapa luasnya itu tampak agak berantakan.
“Enggak. Cuman lagi periksa lembar ujian anak-anak,” sahut Alya sambil membereskan tumpukan lembaran kertas yang ada di meja. Ia menyingkirkan tas cokelat sebesar gaban yang ada di sofa agar Cinta bisa duduk di atasnya.
“Gue ganggu dunk.”
“Banget.”
Cinta cemberut tapi sedetik kemudian ikut tertawa bersama Alya.
“Dari mana, Ta?”
“Dari Miles.”
“Loe jadi bikin skenario buat film mereka?”
Cinta mengangguk. “Ternyata mas Riri tertarik dengan cerita-cerita gue. Padahal dia tahu, novel gue serius semua.”
“Jadi, kesimpulannya loe mau bikin skenario berdasarkan kisah kita?”
Cinta lagi-lagi mengangguk.
“Yang benar?” Alya terhenyak.
“Kenapa?”
“Gue takjub, Ta. Enggak nyangka aja.”
“Gue juga enggak nyangka.”
“Lho mendadak sendu?”
Segaris senyum tipis singgah di wajah cinta.
“Gue… ah, Al… kenapa sih hidup gue enggak bisa jauh-jauh dari…” Cinta menghentikan kalimatnya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Rangga?” Alya berusaha menyelesaikan.
Dari balik tangannya, Cinta mengangguk.
“Gue kadang benci sama diri gue sendiri. Kenapa selalu membuat keputusan yang pertimbangannya selalu berujung di Rangga. Apa-apa dia. apa-apa dia. Gue sakit kali ya, Al?”
Alya pindah dari tempat duduknya menghampiri Cinta. Ia memeluk pundak sahabatnya. Berusaha menenangkan hatinya yang gundah.
“Kenapa, Al? Kenapa… gue begitu mencintai Rangga?”
Alya memilih tidak menjawab. Bukan saja karena ia tidak tahu jawabannya tapi karena Alya yakin, Cinta sudah memiliki jawabannya sendiri.
***
to be continue lagi ya… happy reading ^__^
PS :
arggg… senangnya udah bisa IN lagi setelah beberapa hari mikir mau dibawa kemana cerita ini kekkeeke… mudah2an bisa menghibur hati ya ^__^

About fitrigitacinta

perempuan yang jatuh cinta pada hujan.
This entry was posted in fiksi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s