[FF] Ada Apa Dengan Cinta …. After Seven Years …. (bag.2)

“Oiya, Ta… kemarin gue sempat chat bareng Fika di YM. Dia bilang, anak-anak mau ngadain reuni.”
Cinta terbatuk. Tidak jadi mengangkat cangkir capucinnonya yang isinya tinggal setengah.
“Reuni? Enggak salah?”
“Enggak, Ta.”
“Ya, ampun… kelulusan kita belum genap sepuluh tahun. Kita juga masih sering kontak-kontakan meski cuman lewat BBM, Twitter, Facebook atau chat di YM.”
“Iya juga. Tapi emang angkatan yang terakhir yang masuk dalam list undangan tu angkatan kita. By the way, salah satu donatur terbesar reuni itu Borne lho, Ta.”
“Borne?” ulang Cinta dengan dahi berkerut.
“Fika bilang karena dia mau mencalonkan diri jadi anggota legislatif.”
“Enggak heran sih. Bapaknya kan salah satu pendiri partai baru. Sejak kuliah, dia sudah terjun ke dunia politik, kan?”
Alya mengangguk menanggapi.
“Rencananya mereka bakal minta tolong Maura untuk jadi event organizernya. Mungkin Fika belum kontak Maura. Kalau sudah, dia pasti sudah ribut soal reuni ini.”
“Pasti.”
“Ta, harusnya loe antusias dengan rencana reuni ini.”
Kening Cinta berkerut.
“Siapa tahu… akhirnya tujuh tahun loe bisa mendapatkan jawaban.”
Segaris senyum muncul di wajah Cinta. Sayangnya, bukan senyum yang bisa membuat orang lain yang melihatnya senang.
“Gue… takut berharap, Al.”
“Ta…”
“Loe tahu kan, gue nggak bisa mendapatkan informasi dari siapapun. Dari pak Wardiman, Limbong, Rama atau kenalan gue di PERMIAS. Belum lagi waktu facebook atau twitter lagi booming, gue benar-benar berharap. Tapi loe tahu kan hasilnya. Ada ribuan nama Rangga tapi Rangga yang gue cari enggak pernah ada. Dia benar-benar menghilang.”
Alya menepuk-nepuk punggung tangan Cinta dengan lembut agar ia bisa tenang kembali. Alya menjadi saksi keantusiasan Cinta menemukan Rangga. Ribuan nama itu diperiksanya satu persatu. Dan ketika keantusiasan itu berubah menjadi kekecewaan yang dalam, Alya hanya bisa menenangkan Cinta yang menangis dalam dekapannya dengan sebuah kalimat. “Sabar, Ta.”
“Gue harus gimana, Al?”
Alya menegang ditanya begitu.
“Apa selain berusaha melupakannya enggak ada cara lain?”
“Mencarinya. Cari Rangga, Cinta. Sampai ketemu.”
Sepasang mata Cinta melebar.
“Sudah lupakan saja.” Alya mengibaskan tangannya. “Gue asal bicara.”
“Enggak… enggak… gue MEMANG harus nyari dia sampai dapat.”
“Serius loe, Ta?”
Segaris senyum lebar menghiasi wajah Cinta.
“Seharusnya gue ngasih tahunya nanti.”
Alya mengerutkan kening.
“Loe nyimpan sesuatu ya dari kita-kita?”
Cinta meringis. “Sorry. Hanya saja…” Cinta diam sejenak. “Gue… jujur… gue takut menghadapi reaksi loe… reaksi kalian. Sorry…”
“Cinta… sama gue pake rahasiaan segala. Kayak gue ini siapa aja.”*
“Gue…” Cinta menggigit bibir bawahnya. Rasanya berat untuk mengatakan apa yang selama tiga bulan ini disimpannya rapat-rapat. Setidaknya setelah semua persiapannya selesai, barulah Cinta akan menyampaikan kabar yang mungkin akan membuat mereka bahagia sekaligus sedih. “Gue… gue berencana pergi ke New York.”
Sepasang mata Alya melebar.
“Ada dua alasan.” Cinta menjelaskan. “Sebagian karena Rangga dan sebagian lagi karena gue pengen ngambil creative writing. Gue pengen nambah ilmu baru.”
“Ahhh…” jerit Alya berdiri memeluk Cinta. Tidak peduli pada belasan pasang mata yang menoleh mencari tahu. Tak peduli jika Cinta sesak napas dan tampak kikuk dengan reaksi Alya yang tidak pernah ia duga. “Gue dukung, Ta. Sudah saatnya loe mengambil keputusan.”
“Thanks, Al…”
Cinta kembali tersenyum lebar.
***
Bagaimana harus kugambarkan masa tujuh tahun sebuah penantian.
Awalnya aku merasa ada yang membebani tapi begitu waktu terus berlalu, aku mulai menganggapnya suatu yang normal.
Pagi. Bangun. Sarapan. Pergi ke kampus. Bersenang-senang. Malam. Insomnia. Pagi. Bangun. Linglung. Sarapan. Melamun. Pergi ke kampus. Bersenang-senang. Malam. Lelah. Pagi. Bangun…. begitu terus. Satu dua aktifitas berubah. Aku juga berubah. Tapi aku tahu, satu hal yang tak pernah berubah.
Aku tidak pernah bisa berhenti memikirkan dia.
Dalam rentang waktu tujuh tahun, hati seseorang bisa tetap sama, tapi hati yang lain bisa berubah.**
Alya selalu mengatakan itu. Seperti sebuah mantera. Tapi nyatanya, mantera itu tidak mampu menghipnotisku agar mampu melupakan kenangan masa laluku. Mungkin bisa memberikan pengaruh jika seorang Uya Kuya atau Romy Rafael yang mengatakannya.
***
I loved you: and, it may be, from my soul
The former love has never gone away,
But let it not recall to you my dole;
I wish not sadden you in any way.
I loved you silently, without hope, fully,
In diffidence, in jealousy, in pain;
I loved you so tenderly and truly,
As let you else be loved by any man.
(I Loved You…, Alexander Pushkin)
Ia meletakkan buku di tangannya kembali ke atas meja. Puisi itu kerap membuatnya sakit kepala sejak pertama kali ia membacanya. Tapi tak pernah jera juga untuk kembali mengulangnya. Kesukaannya pada puisi Alexander Pushkin itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa ia terus saja mengulang atau merapalkannya lamat-lamat di kala sedang sendiri. Ia menghembuskan napas panjang lalu bangkit berdiri dari duduknya. Ia berjalan mengitari sofa coklat menuju jendela besar, satu-satunya yang sering menjadi tempat pelariannya ketika hatinya kembali gundah. Dari situ ia bisa melihat jalan raya di bawah sana yang nyaris tak pernah tidur. New York dini hari tak ubahnya petang di kota kelahirannya dulu.
Tujuh tahun.
Ia menghitung.
Angka itu bisa saja bertambah jika saja ia tidak membaca sebaris komen di dinding facebook milik Cinta.
Reuni.
apakah ini waktunya pulang?
Ia meremas rambut ikalnya yang sekarang panjangnya nyaris sebahu. Ia belum berniat memangkasnya, meski Mr. Watkins –atasannya– sempat menyinggung soal rambut itu seminggu yang lalu. Ia menganggapnya angin lalu. Toh Mr. Watkins hanya sedang mencari-cari alasan untuk mengalihkan pikirannya yang tengah dijejali belasan kasus hukum yang harus mereka tangani.
Suara dering telepon membuat lamunannya seketika terpenggal.
“Halo, Rangga. Kau sedang apa?” tanya seorang perempuan di ujung sana. Seketika senyumnya menggembang.
“Baca buku.”
“Tidak heran,” katanya setengah mendengus. “Kau tidak punya acara? Aku ke sana sekarang ya?”
“Aku tidak punya acara, tapi…”
“Kau sedang melakukan ritual aneh itu, ya?”
Rangga tidak menjawab.
“Sampai kapan, Rangga? Sampai kapan kamu akan selalu menjadi bayangannya. Kalau kamu begini terus, kamu hanya akan menyakiti hati orang.”
“Maksud kamu, Kirani?”
Perempuan di seberang sana kembali mendengus kesal.
“Bukan apa-apa. Selamat malam.”
Klik.
Ia menggeleng pelan. Meletakkan horn telepon kembali ke tempatnya. Lalu melangkahkan kaki menuju jendela besar yang ditinggalkannya sejenak. Meneruskan lamunan yang tadi sempat terpenggal.
***
to be continue ya ke PART 3…  happy reading …. ^___^
finally kelar juga lanjutannya… setelah serius ngubek rumah mbah google n nonton ulang AADC lagi kekekekekesimpulannya: seiseng apapun niat kita ternyata kudu pake usaha jungkir balik juga buat mewujudkannya. huaaa… kemarin udh mau nyerah untuk nulis lanjutannya karena kok ternyata ribet ya, ga semudah yang saya bayangkan ketika spontan pengen bikin fanfic ini. tapi alhamdulillah yaaa… sesuatu banget… saya kembali pontang panting nyari bahan… smoga hasilnya lumayan lah bisa menghibur kalian :D
About these ads

About fitrigitacinta

perempuan yang jatuh cinta pada hujan.
This entry was posted in fiksi and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to [FF] Ada Apa Dengan Cinta …. After Seven Years …. (bag.2)

  1. Pingback: [FF] Ada Apa Dengan Cinta …. After Seven Years … (bag.1) | fitri gita cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s